KPAI Yakin Penyebab Anak Bakar Rumah di Sukabumi Lebih kompleks dari Hanya Meniru Film
PIKIRAN RAKYAT Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Jasra Putra, menganggap insiden seorang anak berumur 9 tahun yang membakar beberapa tempat tinggal di Kecamatan Citamiang, Sukabumi, tak dapat diperinci hanya oleh satu faktor penyebabnya saja. Dia menyarankan agar publik jangan serta-merta yakin jika perilaku itu hanyalah disebabkan oleh si anak mencontoh adegan dalam sebuah film.
Anak itu ditemukan telah membentuk 13 titik api dan mengatakan bahwa dia melancarkan tindakan tersebut sesudah menonton suatu film lewat platform media sosial. Akan tetapi, sampai sekarang, tidak ada pihak yang mampu mendeskripsikan dengan jelas jenis film mana yang disaksikan oleh si anak. Jasra mencatat pentingnya untuk lebih meriset masalah ini supaya dapat memperoleh pemahaman lengkap tentang kejadian tersebut.
"Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyarankan agar publik tidak serta-merta mempercayai informasi yang mengatakan seorang anak berusia 9 tahun itu terinspirasi oleh sebuah film. Kasus ini perlu diteliti lebih lanjut," ungkap Jasra pada hari Rabu, tanggal 14 Mei 2025.
Menurut dia, seorang anak berusia 9 tahun dengan perkembangan mental dan emosionalnya tak akan melakukannya tanpa alasan hanya untuk mengikuti tren. Dia percaya bahwa pasti ada faktor pendorong signifikan lain yang bisa mempengaruhi perilaku si anak.
"Sebab psikologi di balik tindakan anak memiliki dorongan dan motif yang kuat, bukan semata-mata disebabkan oleh pengaruh film," jelasnya.
Jasra pun menekankan bahwa anak-anak di masa pertumbuhan mereka cenderung lebih mudah dikendalikan dan dipengaruhi karena belum sepenuhnya memahami konsekuensi serta bahayanya. Dia menjelaskan bahwa dorongan untuk berkembang dan ingin mendapatkan ruang sendiri dapat membuat anak-anak menjadi lebih rentan terhadap hal-hal buruk.
"Oleh karena itu, memudahkan penggunaannya untuk penanganan yang tidak tepat," ujarnya.
Apabila memang terbukti adanya dampak dari film tersebut, Jasra menegaskan pentingnya mengenali judul film tertentu supaya tidak memberi efek negatif kepada anak-anak lain. Meski demikian, dia sekali lagi mementingkan bahwa tingkah laku seorang anak tak hanya dipengaruhi oleh satu hal belaka. Ada pula unsur tambahan dan motivasi yang harus ditelisik lebih lanjut.
"Di sana lah KPAI yakin bahwa penyebab dari tingkah laku itu bukan hanya satu faktor," katanya.
Dia juga menggarisbawahi dampak psikologis pada anak yang mungkin terpengaruh oleh keadaan rumit dalam lingkarannya, termasuk ancaman bully online setelah insiden tersebut menjadi publik. Jasra menjelaskan bahwa pembakaran rumah merupakan indikator adanya hal lain yang harus ditelaah lebih jauh tentang situasi si anak. Dia berpendapat bahwa tanpa memecahkan masalah sebenarnya, tingkah laku semacam ini dapat terjadi lagi di masa depan.
Data dari KPAI menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, 14,9% permasalahan anak termasuk dalam kluster keluarga dan pengasuhan, menjadikannya sebagai kluster dengan tingkat kasus paling tinggi. Jasra mencatat bahwa situasi semacam itu tidak memandang status sosioekonomi dan dapat terjadi pada setiap lapisan masyarakat.
" Ini berarti kondisi ini perlu dipahami oleh para pembimbing anak-anak," jelasnya.
Jasra menegaskan bahwa pemecahan masalah yang berkaitan dengan anak-anak tidak boleh ditangani hanya melalui pendekatan bersikap defensif saja. Dia menjelaskan bila penyebab utama permasalahan ini tak ditemukan dan diselesaikan, situasi semacam itu berpotensi kembali terjadi.
"Jika sebenarnya kejadian tersebut tak ditemukan, dan motivasinya juga tidak diketahui, tindakan serupa mungkin akan berulang," katanya.
Posting Komentar